Showing posts with label Expression. Show all posts
Showing posts with label Expression. Show all posts

Sep 8, 2012

Berhentilah

Aku tak pernah punya rencana, atau buku-buku catatan to-do-list dalam genggaman. Aku juga tak pernah menginginkan untuk diserupai dengan keledai dungu dalam pepatah, jatuh ke lubang yang sama sampai dua kali. Aku bukan mahkota-mahkota dandelion yang selalu membuntuti angin kemanapun ia berhembus. Jangan kau pikir aku pasrah, aku payah. Kau perlu tahu, sudah ku coba mengelak. Tapi kedua sisi manusiawiku tak hentinya saling bersikukuh. Lalu aku bisa apa?

Aku bukan perwira yang bisa mengambil alih komando kedua sisi manusiawiku sebagai prajurit. Aku punya kendali. Sayangnya, kini baru aku tahu, kendaliku punya batasan. Seringkali bongkah demi bongkah bagian yang dititipi dalam batinku membangkang. Dan disinilah, kendaliku sudah tiba di batasannya.

Sekali lagi berhentilah menyalahkan. Karena bahkan kamu tak sanggup untuk sekadar... mengerti.

Jul 18, 2012

Surat dari Perindu

Teruntuk: Seseorang yang hidup di pikometer permukaan bumi dalam galaksi bimasakti.

Dear, you.

Kamu kenal dengan si pelari cepat yang abstrak bernama waktu?
Ya, dia, yang perlahan mencipta jarak antara ujung jemari kakiku dan ujung jemari kakimu.

Tahukah kamu? Waktu kian ganas berjalan, membiarkan aku terseret-seret sambil meremas ujung bajunya
Ia tak peduli dengan tetesan darah dari pori keringatku, kelelahan "mengemis", memintanya selangkah berjalan mundur, atau sekadar sedetik berhenti.
.
Lima liter darah dari tubuh manusiaku, perlahan habis mengalir. Terbuang konyol.
Menyaksikannya yang masih terus berjalan.

Dia yang tak pernah sudi berbalik, menonton tanganku yang sebentar lagi akan sobek, terkoyak, lalu putus.
Menahan lajunya, dari ujung bajunya.

Dan tahukah kamu? Dia-masih-tetap-terus-berjalan. Tak semilidetik pun menggubris ke-nyaris tamat-an ku.

Hingga dia membawaku ke garis perhentianku dalam galaksi otakmu.
Mengubahku menjadi patung dalam diorama, yang terduduk di tanah tandus dalam salah satu sudut memorimu... kaku.

Semua terhenti, tanpa sempat terucap.
Tanpa kamu sempat mendengar.

Jun 5, 2012

Apakah Kamu Menyadari

Masih perlukah kamu menyapa saat kita bertemu atau sedikitnya saling tersenyum?

Menulis sambil mendengar berita gosip dari ruang tengah memang sulit. Tepatnya bukan mendengar, hanya terdengar. Tapi tetap mengganggu. Gosip-gosip yang selalu terdengar seperti mencari sesuatu, yang aku tak mau tahu itu apa.

Kembali padamu. Kamu yang jiwanya selalu tampak dipenuhi hingar bingar afeksi dengan berbagai kadar ketulusan. Dibumbui manis-pahit kata-katamu di dunia di belakang komputer. Sebuah pesona tersendiri. Yang terus be-revolusi mengelilingi pusat tata surya-nya, hatimu.

Dua puluh enam alfabet yang ada sejak zaman sejarah, bagiku tak pernah cukup untuk membuat satu paragraf deskriptif tentangmu. Entah karena kamu terlalu rumit, atau kamu terlalu semu.

.......
5612
Di tengah gelombang suara acara gosip siang bolong.

May 22, 2012

Waktu, Sudikah?

Kerutan ini bukan pertanda semakin banyak aku kumpulkan butiran-butiran usia. Aku hanya sesosok manusia yang kesulitan untuk mengerti, atau mengartikan, satu hal, yang hampir setiap hitungan sembilan hingga enam puluh detik melayang dan melayang. Bukan burung, bukan kertas wajik, bukan kawanan sampah tisu bekas air mata. Aku hanya tidak mengerti, dari mana dia berasal, untuk alasan apa dia datang, untuk apa dia tinggal, kapan dia pergi, atau akankah ia pergi.

Sambil duduk, aku mempersilakan satuan per satuan angin yang hendak berlalu.

Jika saja aku diperkenankan untuk berubah dalam beberapa menit, aku hanya ingin menjadi angin, yang bisa terbang kemana ia mau. Mungkin ia sanggup terbang menyelusup ke dalam hati, menerka dalamnya, mengerti maksudnya, dan melihat isinya. Sehingga saat aku kembali, semua pertanyaan terjawab, setidaknya ada alasan untuk sedikit bernapas lega.

Karena aku tak mungkin bisa menawar waktu yang terus-menerus melangkah tanpa gentar. Tak peduli kita siap atau tak siap, yang ia tahu hanya terus berjalan. Aku tak mungkin melawan lajunya. Untuk mengoreksi setiap penggalan perjalanannya di masa lalu yang aku sia-kan.

Dan yang paling mungkin untuk sekarang, aku hanya meminta waktu agar segera membawaku pergi ke adegan hidup selanjutnya. Atau aku akan lebih lama dipeluk penyesalan.


Aku pun berdiri, seiring matahari beranjak pergi..

May 8, 2012

Sebuah Balada

Kalau saja kamu juga bisa rasakan aroma petrichor ini. Rasanya aku terlalu egois untuk menikmatinya sendirian. Tapi aku harus bagaimana lagi? Bukankah kamu sudah memutuskan untuk pergi?

Rindu ini bukan jus alpukat di tangan orang kehausan, yang bisa cepat habis dan hilang. Bukan juga tinta balpoin si pujangga, yang lama-lama juga bisa hilang. Tepatnya, aku tak bisa mengatur berapa lama ia akan hilang. Atau seberapa lama ia akan tetap bersamaku. Aku tidak bisa.

Kalau saja ada sebuah alat perambat gelombang suara yang menghubungkan hatiku dengan telingamu. Haha, kemungkinan besar, belum ada ilmuwan yang merindu sehebat aku sebelumnya. Aku jadi sulit memanggilmu, mengajakmu merasakan apa yang selama ini menyiksaku. Ah, tapi, aku tak tega jika kau merasakan kekangan ini juga.

Tetiba aku ingat peristiwa sewindu yang lalu. Aku akui kau sungguh hebat. Kau bilang "ada yang berbeda darimu" kepadaku. Hanya satu kalimat itu saja dari mulutmu, bahkan mampu membuat aku terbang mengalahkan kecepatan pesawat tempur Balckbird, membuat aku melesat lebih cepat dari Kereta Shinkansen. Kamu memang sangat hebat.

Saking hebatnya kamu, kamu juga bisa sampai hati untuk kemudian menjatuhkan aku. Aku yang sedang benar-benar menikmati aroma langit, merasakan lembutnya awan, dan menatap megahnya matahari. Tiba-tiba kamu pergi. Begitu saja menganggap tidak ada yang pernah terjadi.

May 5, 2012

Aku Ingin Menulis dengan Bebas

Aku teringat peristiwa ababil dua tahun yang lalu. Kalau aku mengalaminya dua tahun lebih lambat, mereka bilang itu "galau", ya entahlah, terserah bagaimana mereka menyebutnya.

Pada saat itu, aku baru beberapa bulan berselancar di jejaring sosial -setelah tiga tahun bergelut di sana, aku sadar sosialisasi di dunia nyata memang jauh lebih baik, itu presepsiku, kalian bebas jika punya pendapat sendiri-, sebut saja "Muka Buku". Suatu hari, aku update sebuah status tentang sebuah kerisauanku di usia pancaroba. Tak lama kemudian, ada seorang yang terlihat jenius, cerdas, dan pintar -yang belum pernah aku temui, tidak satu sekolah, bahkan tidak satu daerah- mem-post sesuatu di dindingku. Dengan bahasa Inggris yang fluent, kurang lebih dia bilang,
Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang hal itu.
Jleb, makhluk darimana ini? Tiba-tiba datang dan mempermalukan sebagian diriku kepada sebagian diriku yang lain? Aku pikir, kasihan sekali dia, hidupnya terlalu diorganisir. Itu baik sih, tapi sebuah anugerah seindah itu mengapa musti di tolak? Lagipula, aku sudah SMA. Aku sudah tak pernah ingusan meyerupai angka 11. Aku sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Bisa membedakan mana yang harus dipost atau tidak dipost di jejasos. Huffh.. sadarkah dia bahwa perkataannya justru membuat aku terlihat sibuk dan lebih mementingkan urusan "anugerah" dibanding belajar. Dia membuat aku tampak bodoh dan kekanakkan. Aku tidak suka.

Bagiku, tak ada yang salah dari hal ini selama aku masih dalam lingkaran. Aku punya prinsip, wahai kakak Jenius!.

Kenapa aku mempost tentang ini sekarang? Hfu, baru saja aku baca sebuah situs yang postingannya hampir semua bertema cinta, dan dia bicara begitu terbuka, apa adanya. Kemudian aku teringat si Kakak Jenius itu, dan menyadari selama ini postinganku terlalu banyak yang disamarkan. Ah! Itu semua karena perkataan dia dua tahun yang lalu. Yang hingga kini terus membuat aku terkekang. Dengar, aku hanya ingin menulis dengan bebas!

Apr 21, 2012

Palsu

Apa ini yang namanya tertipu oleh hidup?
Oh sekarang aku tahu apa makna dari istilah fana.
Ditertawakan oleh benda mati di sekeliling itu rasanya bagai pecundang.
"Sama hidup aja ketipu hahahaha."
Bisakah kamu berhenti tertawa? Lihat ke cermin, gigimu sudah tanggal semua.

Apr 19, 2012

Other Side

Masih juga tidak bisa percaya.
Kerumitan berbaju keindahan.
Membuat terperangah, terpesona, atau apalah.
Sehingga akhirnya aku datangi.
Lalu aku yakin akan terlihat kerumitannya, tidak lama lagi.
Don't judge book by its cover. The cover might be interesting, but have you ever thought what its contents?

Apr 1, 2012

Kesalahan

Sebuah kesalahan ternyata punya kekuatan yang luar biasa. Bahkan ia mampu menghapus kebaikan-kebaikan yang dilakukan sebelum dia (kesalahan, red). Persis seperti peribahasa "Karena nila setitik rusak susu sebelanga.". Persis juga sama apa yang seseorang lakukan kepada aku sekarang dan mungkin juga aku lakukan kepada orang itu. Baiklah, aku punya kesalahan sama orang itu. Kesalahan yang menurut aku tidak begitu fatal, tapi bagi dia ya entahlah. Aku tak tau jalan pikiran dia dan tak mau tau, kenapa? Karena dengan tau jalan pikirannya bisa bikin rasa benci aku meningkat sama dia. Okey, sekarang aku benci sama dia. Dia itu temen aku sih, kenal sejak 3 tahun yang lalu walau sebenernya udah satu sekolah semenjak 6 tahun yang lalu. Eh, kayaknya ada yang perlu diralat, dia bukan temen aku. Ahrrr, ralat lagi, ya, dia temen aku.

Karena aku pikir gak fatal, sekarnag aku lupa apa salah aku sama dia. Ini murni kesalahan aku. Ah ribet, aku memang gudangnya kesalahan. Dan kesalahan yang ada dalam diri aku gak pernah aku data, jadi semuanya berantakan, maklum aja ya. Tapi kalau ada yang pernah merasa jadi objek kesalahan aku, boleh kok ngomong langsung. Lumayan buat nambah-nambah isi gudang kesalahan dan buat nginget-nginget kesalahan yang emang seharusnya aku inget.

Kembali ke "temen" aku itu. Aku gak suka cara dia sok dewasa. Menurut penelusuran ku, dia justru ga dewasa sama sekali dan super duper egois. Dia selalu ngerasa dia paaaaaaaaling bener. Paaaaling dewasa. Ilfil banget kalau udah debat sama dia. Rasanya pengen ngebejek-bejek mukanya itu. Haah, dan hari ini dia lagi-lagi bikin tingkah. Okelah, sabar 0:)

Dan sadarkah kalian bahwa baru saja saya menabung di lumbung kesalahan saya karena saya udah menilai orang hanya dari kesalahnnya. Padahal di balik itu, kebaikannya juga banyak ko. Maafin ya "temen"ku. Cepet ilangin sifat kamu yang aku sebutin diatas. You'll seem perfect, I bet.

Feb 25, 2012

Sidelines of Silence

A blue surface with its secrets, stories, and magics.
Just like a quiet girl with her soul.
Her face like a calm surface, and her heart like the depth of the ocean.
Only advanced tool that could measure it up exactly.
And only chosen heart who could understand depth of her heart.
The roar of the waves is the picture of her struggle.
The rock is the symbol of her strength when life is no longer friendly.
The beautiful beach never ends.
Like the fascination on the sidelines of her silence.

Feb 4, 2012

Regret


SATU-SATUNYA AKU HAL MERASA YANG BEGITU SAYA DIKECEWAKAN SESALKAN DAN ADALAH KAMU BAGAIMANA TELAH SAYA MEMBUAT BISA AKU MERASA AMAT BEGITU SANGAT YAKIN MENYESAL AKAN ANDA.

Cucur Haneut (Curhat)

Ini bukan hal pertama yang aku rasa. Terdengar berlebihan dan perspektif. Menuju ke satu titik. Pasti banyak yang sudah mengira, bahkan sebelum aku menulis apapun. Ini soal ekhm.. jatuh hati. Ya, jatuh hati. Bukan, bukan jatuh hati yang seperti itu. Tapi jatuh hati dalam makna setengah denotatif. Setengah real, dan setengah lagi sangat real. Lho? Jadi, hati aku benar-benar jatuh. Lalu pecah. Pecah..

Ah bosan. Ya kamu tahu kan? Membosankan untuk merasakan hal itu kesekian kalinya. Capek. Makan ati. Minumnya? *iklan*. Cukup, saya tidak akan berpromosi di posting ini.

Bukan kertas halus yang jadi lecek. Tapi kertas lecek yang jadi risek. Tak ada perubahan berarti. Tak ada sakit hati yang berarti. Kata-kata hiburan klasik.

Entah hormon apa yang bekerjanya bikin sesak. Yang pasti dia sedang kerja lembur didalam tubuhku sekarang. Umpama berton-ton truk gandeng sedang lalu-lalang di saluran pernafasanku. Juga di dalam batinku  *gaya pujangga*.

Padahal baru saja kemarin aku menulis namanya di pertanyaan kokologi. Katanya, nama di baris ketiga adalah cinta sejatimu. Halaaah, kacau. Apanya yang cinta sejati? Cinta belati sih ada. Menghunus-hunus perasaanku.

Ah cukup. Aku cukupkan postingan kali ini. Postingan gak jelas, seperti yang biasanya aku tullis. No conclusion. Dan terakhir, moga truk-truk gandeng ini segera migrasi ke tempat lain. I wanna be free!!!!

Dec 26, 2011

Harusnya

Harusnya kamu tak perlu sapa aku.
Kalau itu hanya sekali, kemudian hilanglah..

Harusnya kamu tak perlu bicara padaku.
Kalau hanya butuhnya, kemudian lenyaplah..
Harusnya kamu tak perlu senyum padaku.
Karena tak ada kepalsuan abadi.
Terbukti kan? Sekarang aku bisa lihat jelas-jelas.

Kalau saja aku tidak tertipu.
Kalau saja sapa, kata, dan senyum itu tak ada.
Kalau saja tak pernah bertemu.

Sudahlah, kalau saja tak ada kalau saja..


Dec 11, 2011

Kekangan Semu

Terkekang kenang dan bayang-bayang.

Tidak lama, disana ada satu dan dua saat. Kedalaman matanya yang tak terbatasi. Kemudian penglihatanku jatuh bebas kedalamnya. Jatuh jauh. Tanpa batas. Jika saja tak segera aku terbangun.

Aku terbangun dalam kekang kenang dan bayang-bayang.

Dua puluh enam alfabet yang ada masih kurang untuk di tata jadi kata-kata. Sehingga bisa bikin terbebas. Dari kekangan yang sebenarnya tak ada.

Dimana? Apa dia hidup dalam hidupku? Apa dia hidup hanya di mimpiku?

Lagi-lagi aku terjatuh bebas, namun hanya tapak-tapak di atas pasir ini yang menyaksikan. Terbangun lagi, dan tak ada dia lagi. Ada punggung yang terlenyap seiring gelap. Bisakah anda berhenti, atau sekadar berbalik sejenak? Hanya sesaat.

Dec 1, 2011

Your Eyes Like A ...

Aku lihat ada sosok yang mengalun, atau teralunkan. Bersamaan dengan denting-denting yang menggoda. Kemudian terdengar baris nada di luar oktaf. Do re mi fa sol lo ve do. Bukan aku yang mengetuk palu. Namun rasakanlah saat sesuatu datang begitu saja.

Lihat bahwa semuanya akan tetap begitu. Yang ada dalam garis ini -antara matamu serta mataku- bukan lagi pengharapan. Karena aku sudah sangat bosan, berharap seorang diri. Atas yang ku terima di akhir, garis itu justru terputus dari seberang dan men-jepret langsung kedua mata, hingga satu hati ini.

Cukuplah setengah garis ini. Tak perlu ada matamu yang harus menyadari keberadaan mataku. Lagipula, aku malu.



Karena, aku tak sengaja jatuh cinta.
 
Walau perhentian mungkin tiada, cukuplah sejauh ini aku mampu jadi nahkoda atas perahu hidupku sendiri.



(Malam, awal dalam akhir)

Oct 16, 2011

Kedua?

Sekali lagi berpikirlah, dan teruslah ingat-ingat. Jangan jadi sebodoh itu untuk sengaja terjatuh ke lubang yang sama. Apa tak cukup asam garam kamu rasakan?

Ini bukan tentang buah mangga, yang awalnya asam kemudian manis. Tapi ini jauh berbeda. Awal yang manis, dan kau bisa tebak sendiri bagaimana kisah yang di dalam prosa berbahasa Inggris ada setelah kata 'finally' ini.

Bukankah kabut sudah sirna? Bukankah matamu tak mengidap hipermetropi? Lalu kenapa pandanganmu masih terus-menerus buram?

Pahamilah alur cerita ini. Kadangkala mengambil risiko adalah tindakan yang patut diberi ibu jari. Tapi tidak jika taruhannya adalah hal tersakral yang ada pada hatimu.

Sekarang, tetaplah tenang.

Oct 2, 2011

Did It "It"?

Tak sepantasnya jika aku lakukan ini. Aku tak paham kenapa aku harus bekerja sekeras ini. Menguntai kata demi kata. Mencari wajah demi wajah. Hanya untuk membuat sesuatu yang akhirnya menyiksaku.

Apa aku setega ini pada diriku sendiri? Mengharapkan satu hal yang sudah didiktekan padaku ti-dak-mung-kin. Kau bisa gambarkan aku seperti megharap air membeku pada suhu 100 derajat celcius.

Lalu bagaimana?

Mengapa satu bongkah perasaan yang mulia ini seringkali meyakitkan? Mengoyak habis satu kertas penuh majas-majas perasaan yang dengan sulit aku rangkai.

Lalu bagaimana lagi?

DID IT "IT"?

Sep 11, 2011

Setia

Bisa jadi seperti itu. Mungkin tak pantas? Atau.. ah pentingkah.

Yang dia tahu dari runtutan balada ini, hanya awal yang manis. Dan sekarang? Apa yang ada sekarang? Umpamakan dia buah durian, mungkin tinggal durinya. Kurasa kulit durian masih baik-baik saja saat 'ditinggal' di tempat sampah. Tapi dia manusia, bukan kulit durian.

Kisah pertemanan yang ku kira sadis. Bagaimana bisa mereka melupakannya? Hatinya pernah berkata padaku bahwa dia sayang mereka, sangat sayang. Sebagai orang terdekat yang dia kira akan jadi orang-orang terbaik dalam hidupnya. Orang-orang yang tertawa saat dia tertawa. Orang-orang yang tanpa diminta, akan bersedih saat dia berduka. Orang-orang yang akan menangis ketika dia masuk lahatnya.

Dan kenyataannya mereka memang tertawa saat ia tertawa. Tapi mereka tetap tertawa.. terus tertawa ketika hatinya sesak. Ketika pilu merundungnya.

Aku pernah mendengar suara lirih dari balik bilik peraduannya. "Lalu kapan aku mengenal sebuah kesetiaan?" "Tertawalah bersamaku, menangislah bersamaku.." "Aku hibur kau saat kamu sedih. Kau hibur aku saat aku rasakan yang sama." "Jangan tertawa saat aku menderita."

Hingga sekarang masih terus ku dengar..

Sep 6, 2011

Surat (Mungkin Permintaan, atau Suruhan)

"Tetaplah tersenyum" kata-kata lumrah. Tapi kali ini bukan hanya "kata-kata belaka". Kata yang datang entah dari mana. Dari hati kah? Kupikir fungsi hati itu menawarkan racun. Hah, sudahlah. Dalam kepastiannya, aku merasakan sebuah rasa yang benar-benar memaksa. Menuntut hal itu harus terjadi. Menuntut kau berubah. Menuntut kau untuk...

...tersenyum.

Aku tak suka melihat kau pasang persediaan muka masammu setiap hari. Sekali lah kau ganti dengan muka tulus, muka penuh "senyuman" yang Tuhan anugerahkan untukmu. Kenapa kau tak pernah mensyukurinya? Senyummu begitu manis. Kenapa kau tak pernah memakainya?

Hanya sebuah pengandaian, yang bahkan aku tahu tak mungkin terjadi - namun tetap aku lakukan. Bagaimana kalau kau jadi seseorang yang bernama aku. Ku rasa kamu baru mengerti. Apa artinya sebuah "senyuman" yang kau ukir di wajahmu -yang tak sempurna tanpa senyummu- bagiku. Cukup sudah. Aku tak lupa bilang ini tak akan terjadi, kan?

Tersenyumlah,

Who need your smile,

Aku-

Aug 17, 2011

Sebenarnya Aku

Bagaimana bisa, untuk mengulum satu senyum.

Dengan alibi yang tak masuk teori.

Lalu mengapa, kau terlalu percaya diri?

Bagaimana mungkin untuk ada di dalamnya.

Sementara setiap relung telah dipenuhi oleh derai kasih tulus.

Dari hati yang telah lulus.

Lalu mengapa, kau masih terlalu percaya diri?

Jangan urai sesalmu pada harapan.

Sejatinya ia tak datang jika kamu tak mengizinkannya terjadi.

Jangan lepas amarahmu pada senyuman.

Sejatinya ia tidaklah salah, jika kamu tak membuat sebuah spesialisasi.

Jadi biarlah deburnya terus berjalan sebagaimana ia harus berjalan.

Sisanya hanya bagaimana cara kamu mendayung.

Tenggelam dalam perih.

Atau berlabuh dengan rindu yang tak berusai?