May 29, 2014

Dosa

Rasanya terlalu banyak. Terlalu banyak yang ingin kutulis. Tentang kepantasan. Tentang aib tersembunyi. Atau tentang aku yang masih diselamatkan Tuhan dengan penyembunyian aibku. Bila saja satu aib bisa menimbulkan noda hitam di wajah, mungkin wajahku sudah lebih dari coreng-moreng. Tapi Tuhan Mahatahu dan Mahapaham. Manusia tak sekuat itu dalam menanggung malu.
Entah sudah berapa janji tak ku penuhi. Sudah berapa amanah tak ku banggakan. Sudah berapa ghibah kusebarluaskan. Sudah berapa kata-kata tak guna ku ucapkan. Sudah berapa dosa kulanglangbuanakan. Dan masih saja shalatku tak tumaninah. Dan masih saja waktu terkhusyuk ku biarkan berlalu.
Saat aku tak tahu apakah Tuhan sudah mengampuniku, dengan percaya diri masih ku bangun pagi tak ingat dosa-dosa. Aku dikaburkan dari makna dan kefitrahan cinta. Mulut senantiasa menyimpan cintaMu di takhta teratas, tapi perilaku masih saja suka mendosa. Tertawa dalam berghibah. Senyum picik kala dendam tetrebuskan. 
Terlalu banyak pinta yang kudikte, padahal mungkin pahalaku saja masih bersaing beratnya dengan angin.

Apr 18, 2014

Karena Hidup Tak Sesederhana Itu

Dalam pesona yang terlapis penghalang benderang, aku melihatmu.
Dalam jungkir balik rasa yang sama, penghujung yang kuharap berbeda, pada akhirnya tetap sama.
Sunyi berdurasi telah melempar aku kembali ke ringkih yang semula, kepayahan sebelum semua bermula.
Gradasi harap yang kerap berulang dan bersambung, memekat dan memudar secara berkala.
Jika hidup hanyalah lembar recto dan verso, mungkin setiap jariku sudah geram dan ingin langsung tiba di bab terakhir.
Tapi sayangnya, hidup tak sesederhana itu.

Feb 28, 2014

Fourth Semester

February, also well-known as the shortest month in usual almanac, even when in the leap year. This month almost over, it had reach its latest date. It feel like aaaaaaaaaaaaaaaaa when aware 'bout it. Two days after tomorrow, my major will be continued.
My major...My major...My major...
Frankly speaking, until this single moment, I still temporized there will come a day when I begin to think that I'm not wrong to choose Chemical Engineering as my major.
This is me.
A very common people who through her ordinary life with her indifference way. A people who have no sense of engineering and act like have a heart made of steel to gamely wrestle herself to this what-a-major. Been three semester I've through. And why this decision still feels like at fault every time?

Okay, this incoming fourth semester was not come to be wasted away. Again, this common welcome words in every new semester. Tired of it, tired as well.
La hawlaa walaa quwwata illa billah. No power nor might except from Allah.
Let's be better person who always be in our elegant way to posturing our own decision.
Allah with us.


Jan 5, 2014

Sebuah Pengakhiran

Bukankah kita memulainya dengan baik?

Kalaupun kemarin langit ikut runtuh bersama hatiku, menjadi puing-puing yang tak bisa ku bentuk lagi. Harusnya ada kau yang memegang pundakku erat. Ketika aku hendak tersungkur, harusnya ada kau yang memegang pundakku erat. Tidak seperti kemarin. Kau sibuk dengan hatimu yang (mungkin) runtuh juga. Mengapa kita tidak bersama-sama disini? Meski mesti meratap, bukankah akan lebih baik jika kita ratapi bersama-sama?

Pengakhiran ini memang seharusnya kita nyatakan. Bukan karena hati kita tak bisa lagi mengunit satu dengan lainnya. Tapi waktu belum lepaskan izinnya pada kita. Aku paham itu, dan kau pula.

Tetapi apakah kita tak bisa mengakhirinya sebaik kita memulai kemarin?

n.b: tidak selamanya aku adalah aku

Jan 4, 2014

Maaf, Karena Aku Hanya...

Pernahkah kamu menempatkan dirimu dimana kau hanya mendengar tapi lidahmu kelu tak berkata-kata. Matamu melihat jelas, hatimu tersayat miris, tapi kamu justru diam. Pernahkah kamu mendapatkan dirimu ketakutan, padahal kau tahu tindakanmu adalah benar. Kemudian kamu hanya bisa tercenung dengan kepalan tangan menyangga kepalamu yang terasa makin berat.

Aku bukan malaikat yang diciptakan Tuhan untuk menjadi selalu taat. Tapi aku punya mata-telinga dan tahu bahwa saling mengingatkan adalah kewajiban. Maaf jika kau rasa aku belum pantas membagi setitik kebenaran padamu. Aku memang hanya pendosa yang berkeliaran diatas sekeping dari sejagat lebih nikmat Tuhan.

Jan 1, 2014

Mata, Tulisan, Wajah

Penulis favoritku, Tere Liye, pernah bilang...
Ketika kita sungguh menyayangi seseorang, maka perasaan itu tidak hanya menetap di hati kita, tapi juga di bola mata kita.
Maka maafkan jika dari mataku kamu melihat keasingan. Karena sungguh aku selalu berusaha menyembunyikannya, andai kau tahu. Maaf jika kau pernah tak sengaja membaca blog dan tumblr ku. Merasakan bahwa tulisan-tulisan itu seringkali tampak kutujukan pada seseorang, benar, itu kamu. Maaf jika kemudian kamu risih dan tak ingin mengenalku lagi. Karena sungguh aku selalu berusaha mengendalikannya, andai kau tahu. Maaf jika ketika orang yang kau harapkan diam dan tak menanggapimu, aku ada dan selalu bersegera menjawab pertanyaanmu, walau sangat mungkin, bukan aku yang kau inginkan untuk menjawabnya. Aku hanya tak ingin kau diabaikan, walau kepedulianku tak menimbulkan banyak arti. Maaf jika wajahku memerah saat kita mesti bertemu. Karena sungguh aku selalu berusaha tenang, andai kau tahu.

Maaf karena usahaku yang selalu gagal. Semoga kau tidak membaca tulisan ini.

Dec 31, 2013

Untukmu

Untukmu..
Seorang pangeran yang sudah tertulis sebagai pelengkap setengah agamaku di lauhul mahfuz.
Seorang yang tangguh mempertahankan prinsipnya. Seorang yang kelak menjadi imam shalat tahajjudku.

Untukmu,
Aku hendak memberitahu bahwa aku adalah wanita yang biasa saja. Aku tak sepiawai akhwat-akhwat berkhimar panjang itu dalam memperbaiki diri. Tapi sungguh, aku senantiasa berusaha. Pun aku adalah wanita yang lemah dalam beriman. Tapi aku tahu Tuhan menciptakanmu untuk menguatkan aku kala aku mulai lemah, yang memelukku kala aku mulai terhempas.

Suatu hari nanti, ketika aku sedang dalam kebingunganku, aku tahu ada kamu bersama nasihatmu yang memecah kalut itu. Suatu hari nanti, ketika aku sedang marah, aku tahu ada kamu yang meredam amarahku. Suatu hari nanti, ketika aku berbuat salah, aku tahu ada kamu yang meminta maaf terlebih dahulu. Entah mengapa, dalam imajinasiku, kamu adalah sosok yang sebegitu indahnya..

To be continued.

Nov 6, 2013

Spirit of Java

Solo. Aku bukan hendak bercerita tentang penyanyi yang bernyanyi sendirian, melainkan tentang nama sebuah kota menawan yang begitu tersohor di Provinsi Jawa Tengah.

Suatu hari di bulan Juli 2011.

Jam tanganku menunjukkan pukul 20:00 WIB. Aku, ibu, dan adikku serta beberapa anggota keluarga kami yang lain tengah berdiri di peron statisun Gambir. Menunggu kedatangan kereta yang akan membawa kami ke kota asal almarhum ayahku. Setelah satu jam, kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ini kali pertama adikku naik kereta. Dia terlihat sungguh bergairah ingin segera mencoba sensasi bertransportasi dengan kereta. Sementara ini kali keduaku. Pertama kali aku naik kereta adalah ketika aku masih balita, saat itu ayahku masih ada dan adikku belum lahir.

Aku dan keluargaku mengisi tempat duduk yang sudah dipesan. Kereta melaju, adikku tak henti-henti memandang keluar jendela, walau sebenarnya tak terlihat apa-apa karena langit sudah gelap. Sementara adikku masih menikmati pengalaman pertamanya naik kereta, aku memilih untuk tidur.

Subuh itu, kereta penumpang Argo Lawu yang kutumpangi tiba di sebuah stasiun. Aku bergegas mengambil koper dan segera turun dari kereta. Aku berjalan menjauhi kereta dan melihat sekeliling. Pandanganku berhenti saat melihat papan nama stasiun ini: Solo Balapan. Ah inikah stasiun yang selama ini hanya aku dengar di lagu Mas Didi Kempot itu? Dan sekarang aku sudah benar-benar menginjakkan kaki di peronnya. Mungkin waktu balita dulu juga aku pernah kesini, tapi aku sama sekali tak ingat.



Sebelum menuju hotel, kami menunaikan sholat Shubuh terlebih dulu di musola Stasiun Solo Balapan. Di seberang musola kulihat ada beberapa lokomotif sedang terparkir. Udara subuh di Solo tak sedingin di kota tempat tinggalku, Sukabumi. Walau begitu, udaranya terasa sangat bersahabat dan terasa tak asing bagiku. Mungkin karena kota ini adalah kota kelahiran ayahku, yang artinya kota ini juga kota asalku walau aku tak terlahir disini. Bisa dimaklumi, karena budaya keturunan di Indonesia sangat kuat.

Seusai solat Subuh, kami memutuskan untuk langsung menuju hotel menggunakan mobil sewaan. Sebenarnya di kota ini ada satu rumah bhulik dan satu rumah pakde ku. Tujuan kami ke kota ini adalah untuk menghadiri pernikahan anak bhulik ku. Karena takut merepotkan empunya acara, kami memutuskan untuk tidak bilang-bilang bahwa kami sudah tiba di kota Solo. Kalau kami bilang-bilang, pasti bhulik ku bakal lebih repot, maka kami memutuskan untuk datang diam-diam dan menyewa kamar hotel sendiri, bukan hotel bintang lima, tapi cukup nyaman dan bersahabat dengan kantong. Di hotel inilah kami beristirahat selama dua malam di kota Solo.

Karena masih lelah, hari ini kami putuskan untuk beristirahat penuh. Pamanku yang ikut di rombongan kami sudah merencanakan untuk jalan-jalan keliling kota Solo esok pagi. Ia bilang, ia akan menyewa angkot untuk satu hari penuh dan kita bebas keliling kota Solo. Aku tak sabar menanti hari esok.

Malamnya, ketika jam makan tiba, anak pamanku yang juga ikut di rombongan mengajak kami untuk makan di warung angkringan pinggir jalan. Katanya, sensasi makannya akan terasa lebih nikmat. Malam itu kami berjalan menyusuri trotoar di pinggir jalan kota Solo. Ah lampu-lampu gemerlapan nan cantik menyinari malam hari di kota. Udara malam yang tidak terlalu menusuk membuat jalan-jalan malam itu terasa hangat dan romantis.

Setibanya di warung angkringan itu, aku melihat banyak menu yang terdengar cukup asing, salah satunya nasi kucing. Aku bertanya kepada pamanku apa itu nasi kucing. Kupikir itu adalah nasi dengan lauk daging kucing, hahaha, dan dugaanku meleset. Ternyata nasi kucing ini adalah nama nasi yang disajikan dalam porsi sangat sedikit, sehingga lebih tampak seperti porsi makan untuk kucing. Nasi kucing ini disajikan dengan berbagai macam lauk pauk, seperti tempe kering, ayam, bandeng, sambel, dan sebagainya. Tapi malam itu aku tidak mencobanya, aku masih janggal dengan namanya sehingga aku lebih memilih untuk makan telor penyet yang ternyata rasanya luar biasa enak. Sungguh indah makan malam ditemani dengan pemandangan lampu-lampu kota Solo yang romantis. Ternyata makan malam romantis tak melulu harus ditemani kekasih hati, ditemani keluarga dan lampu kota juga ternyata tak kalah romantisnya, hihihi.

Esok paginya, seperti yang telah direncanakan, kami pergi berkeliling kota Solo. Pertama-tama kami mengunjungi bekas rumah eyang-ku yang kini sudah berpindah tangan. Sebuah rumah dengan pekarangan tiga kali lebih luas dibanding bangunan rumahnya. Benar-benar sebuah rumah yang ideal untuk ditempati sebuah keluarga. Di kotaku mana ada rumah dengan pekarangan seluas itu. Sayangnya, semenjak ayahku merantau ke Jakarta saat muda dulu, dan kakek-nenekku meninggal, rumah ini sudah tak ada yang mengurus dan diputuskan untuk dijual. Kalau saja saat itu aku sudah ada, aku pasti akan menghalangi ayahku menjual rumah ini. Tapi ya sudahlah, mungkin memang sudah seharusnya rumah ini dijual.

Selepas dari (bekas) rumah kakek, kami pergi ke Keraton Solo alias Keraton Surakarta. Pakde ku pernah bercerita bahwa perbedaan Solo dan Yogya salah satunya adalah kepemerintahan kerajaannya. Kata pakdeku di Yogya adalah keraton Kesultanan dan di Solo adalah keraton Kesunanan. Aku tak begitu paham dengan perbedaan ini. Aku pun belum sempat bertanya lagi kepada pakde.

Angkot sewaan ini melaju menuju keraton Solo. Sebuah keraton dengan mayoritas warna biru langit di temboknya. Sayangnya, kami tak boleh masuk ke dalam keraton dan hanya diperkenankan untuk masuk ke museum kereta kencana. Kereta-kereta kencana di museum ini ada cukup banyak dan sangat indah. Beberapa diantaranya tak boleh disentuh, ketika aku tanya paman mengapa tak boleh disentuh, ia pun tidak tahu, hahaha.

Dengan kereta kencana


Setelah puas berkeliling di keraton Surakarta, kami meneruskan perjalanan ke sebuah pasar yang cukup terkenal di kota Solo. Namanya pasar Klewer. Kata bibiku, pasar ini terkenal dengan batiknya. Disana aku membeli beberapa tas batik yang cantik. Ibuku yang notabene asli Sunda, sedikit kewalahan negosiasi harga dengan penjualnya. Untung saja ada bibiku yang lancar bahasa Jawa. Akhirnya kami mendapatkan tas batik itu dengan harga yang cukup murah. Setelah itu kami membeli enting-enting dan wingko untuk dibawa sebagai oleh-oleh.

Ternyata kami menghabiskan waktu cukup lama di pasar Klewer. Sebelum kembali ke hotel, kami diajak ke warung jamu kaki lima. Aku memesan jamu beras kencur. Setelah kucicipi, ternyata rasa jamunya sangat enak, dan berbeda dengan rasa jamu gendongan di kotaku. Rasanya sangat khas dan wueeennakk. Sampai-sampai aku menghabiskan dua gelas. Jamu yang disajikan dengan es batu itu bisa menjadi minuman yang amat pas untuk menemani siang yang terik di kota Solo.

Setelah lelah berkeliling di keraton dan berbelanja di Pasar Klewer, kami kembali ke hotel. Malam ini akan digelar acara pernikahan sepupuku. Setelah beristirahat, malamnya kami pergi ke pesta pernikahan sepupuku. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel. Berhubung bhulik ku belum tahu kedatangan kami, bhulik merasa sangat senang dan terkejut melihat kehadiran kami di pestanya. Bhulik sedikit ngambek karena kami datang tanpa bilang-bilang padanya. Malam itu, pernikahan sepupuku berlangsung dengan khidmat.

Seusai pesta, kami kembali ke hotel. Kami harus mengemas barang karena besok kami harus kembali ke Jakarta. Berat rasanya hati ini meninggalkan kota senyaman Solo. Aku berniat untuk begadang menghabiskan quality moment di kota Solo ini. Tapi ibuku mencegahnya, beliau bilang, besok kami sudah harus pulang pagi-pagi sekali. Walau sempat menolak, akhirnya aku menurut.

Pagi yang menyedihkan ini akhirnya datang. Betapa tidak, hari ini kami harus pulang meninggalkan kota yang romantis dan nyaman ini. Berat hatiku untuk beranjak. Tapi apadaya. Kami pun bergegas pergi ke Stasiun Balapan. Kami diantar oleh kakak sepupuku, salah satu anak pakdeku. Tepat jam 8.00 pagi, kereta Argo Lawu, yang dua hari lalu mengantar kami ke kota indah ini, datang dan siap memisahkan aku dan Solo kembali. Aku naik ke peron dan menaiki kereta. Selang beberapa menit kemudian, kereta sudah terisi penuh dan mulai melaju.



Sambil melihat keluar jendela kereta, aku bergumam: “Sampai jumpa kota romantis, the spirit of Java! Semoga suatu hari aku bisa kembali lagi kesini atau bahkan menetap disini. Ke kota yang sungguh memikat dan terpatri di hati. Baru kali ini rasanya aku merasakan jatuh cinta pada sebuah Kota. Solo, I love you to the max!”


Oct 4, 2013

Beda

Masih jelas dalam linimasa sejarah, saat aku seakan gila. Saat aku suka mereka-reka cerita yang sesungguhnya tak ada. Saat aku gemar bercerita, cerita yang disana-sininya kutambahkan versiku sendiri. Menyesal. Menyesal akan begitu banyaknya kamuflase yang aku guratkan sendiri. Begitu banyaknya khayalanku yang bahkan aku tau itu masih bermil-mil jauhnya dari kenyataan. Tapi apalah daya? Dulu aku terlalu angkuh untuk buang muka dari kesemuan. Dulu aku terlalu acuh untuk menoleh pada kenyataan. Dulu aku begitu bodoh untuk terus mengejar fatamorgana yang setiap didekati ia luput. Aku kacau.

Sekarang sesal itu baru tiba di satu fase hidupku yang baru. Aku tak menyalahkan kehadirannya. Aku tahu, dia datang untuk membuatku satu langkah lebih paham.

Kuharap setelah ini tak ada lagi rekaan cerita, tak ada lagi khayalan semu, tak ada lagi berlari-lari mengejar fatamorgana. Kuharap setelah ini aku bertransformasi jadi manusia yang lebih matang. Jadi manusia yang lebih siap hidup dihimpit kenyataan, daripada bersenang-senang hidup di atas andai-andai.

Aug 17, 2013

Sembilan Belas-an

Ternyata sudah 19 kali aku lalui tanggal 11 Agustus. Waktu yang tidak sebentar namun masih terlalu belia juga bila dikatakan sudah lama.

Ulangtahun? Aku lebih suka menyebutnya milad. Karena milad berarti hari lahir. Plus, milad juga berasal dari Bahasa Arab. I always adore Arabian language. Though I couldn't speak Arabic indeed, hehe.

Langsung aja deh ke poinnya. Ngebahas milad dan asal-usulnya bakal panjang. :)

Milad kali ini bener-bener sukses bikin aku bahagia. Dengan nuansa lebaran yang masih sangat kental dan begitu hangat. Ditambah, dikasih cake keju sama Ibu. Cake keju asli buatan Ibu dan rasanya enakkkkkkkkk pake banget. Sengaja gak dipublish fotonya, karena pasti bikin ngiler. Hehehehe bercanda.

Kedua, ucapan dari sahabat-sahabat mulai dari yang ngucapin jam 1 dinihari sampe ngucapin 2 hari setelah hari-H. Hahaha nyentrik banget atuh nyaak. Ya walaupun gak banyak yang ngucapin (berhubung aku juga termasuk orang yang jarang banget ngucapin selamat milad hehe). Karena, menurut aku sih ucapan itu ga perlu banyak. Asal ada yang berkualitas, that's more than enough to made my day :)). Dan tahun ini, hal itu terwujud. Terwujud. Makasih ya buat yang merasa udah ngucapin. Caranya sederhana kok, tapi bakal aku kenang terus, insya Allah.

Hem apalagi ya? Oiya, tahun ini juga aku dapet hadiah yang luar-luar biasa dari Allah. Udah pernah aku bahas kok di postingan sebelum ini. Iya, keluarga baru, Avicenna. (Nanti deh foto mereka aku upload. Jaringan lagi gak beres nih). Intinya, bahagia banget bisa ketemu mereka, kenalan sama mereka, belajar bareng mereka, bekerja keras sama mereka, dan akhirnya jadi keluarga. Every moment spent with you is the moment I treasure pokoknya kalau kata Aerosmith mah.

Tapi milad kali ini juga sedih. Mengingat pembunuhan massal saudara-saudaraku yang ada di Mesir. Belum selesai di Suriah, sekarang ditambah di Mesir. Ya Allah. Maafkan aku yang belum bisa melakukan apa-apa selain berdoa untuk mereka. Tapi, seseorang bilang, doa itu bantuan yang maksimal kan? Aku tak akan mengabaikan hal itu. Aku percaya Tuhan "pasti" Mendengar doa hambanya.

Kayaknya sekian dulu deh postingan aku kali ini. Walaupun agak telat gapapa lah yang penting setiap aku buka blog ini, dan aku baca postingan ini, pikiranku akan tetap semuda saat aku menulisnya dan merasakan kembali sensasi kebahagiaannya hehehehhee.

Jangan lupa #PrayForEgypt #StopEgyptMassacre

Jul 28, 2013

Postingan Bulan Juli

Sudah bulan Juli, akhir bulan Juli, tepatnya. Duh maaf banget buat semua pembaca setia blog gue, itupun kalau ada, kalau sebulan ini gue nganggurin my beloved blog ini, tempat curhatan gue ini, tempat gue mengekspresikan apa yang gabisa gue ekspresikan di dunia nyata, dan tentunya tempat sejarah hidup gue diabadikan #cielah.

Kangen banget! Haha. Banyak cerita yang pingin banget gue lepas disini. Bulan Juli ini, kisah riwayat hidup gue bertambah satu poin. Iya, bulan ini gue ikut acara Training of Trainer gitu. Acara buat persiapan ospek kampus. Dalam satu bulan, hampir tigaperempatnya gue habiskan di kota Kembang ini. Risiko sih karena gue udah sosoan mau jadi panitia haha. Tapi kalau si Abah bilang sih, "gak papa gak papa".

Dari pilihan gue untuk ikut jadi panitia, ada keuntungan dan ruginya juga. Ruginya dulu deh. Yang pertama pastinya waktu dan tenaga. Dan yang paling penting, ongkos! Hehe. Ongkos makan, ongkos pulsa, ongkos bus, ongkos bensin, banyak!

TAPI

Semua kerugian yang berlipat ganda itu bener-bener bisa ditutupi oleh keuntungan berlipat-lipat lebih ganda. Disini gue dapet ilmu baru, partner baru, teman baru, sobat baru, bahkan keluarga baru. Sebut saja Avicenna. Iya, nama tim medis di ospek kampus tahun ini. Kurang lebih sebulan gue lewatin bareng Avicenna, rasanya indaaaaaaaaach *maaf alay, ketularan Hele. Haha.

Dan dari TOT ini juga, gue ngerasa disadarkan bahwa dunia ga selebar daun kelor. Bahkan polban ga selebar daun kelor. Ternyata polban luas. Sebagai mahasiswa, gue merasa gagal! Gue merasa bener-bener kuper dan terlalu menutup diri. Ternyata, banyak banget orang-orang lovable berkeliaran di polban, sedangkan selama ini gue stuck pada satu orang.........................sst udah! sisanya mari kita skip.

Jadi, kalau kata Ucup pas beres nyerita horror, esensi dari postingan ini adalah, bahwa Polban ga selebar daun kelor.........eh bukan! Bahwa setiap pilihan pasti ada untung-ruginya. Jangan liat ruginya terus. Ambil untungnya. Manfaatkan! Lancarkan! Kerasssssss!

Burung irian burung cendrawasih....eh masih jaman?

Jun 25, 2013

Untuk Apa Menangis Sekarang

Aku masih tercenung menatap pohon-pohon yang tampak melesat berlarian. Dengan warna dasar biru yang sudah mulai luntur pekatnya. Pecahan memori mengantarkanku pada sebuah potongan cerita saat spidol boardmarker itu menari-nari diatas selembar kertas putih. "Seratus mimpi" katanya. Mimpi harus dicatat, biar tak lupa dan senantiasa jadi penyulut api semangatmu agar berkobar lagi ketika kau dapati ia perlahan padam, katanya.

Satu tetes air mata mengawali jutaan tetes lainnya untuk terjun bebas dari kelenjar lakrimalis. Semua desing peluru itu terlanjur berteriak-teriak dan sulit luput, lubang bekasnya berlalu terlanjur terukir dan sulit lenyap. Jutaan tetes lainnya kemudian kembali terjun bebas.

Ada sesal yang menggema namun enggan keluar. Ada sesal yang menyiksa namun sudah terlalu kunikmati. Karena penyesalan, di belahan semesta manapun, akan selalu datang menyusul.
Untuk apa menangis sekarang?
Karena masa depan penuh teka-teki, dan aku sedang berjalan membawa satu-satunya alat yang bisa membongkarnya; waktu.

Jun 18, 2013

Aku Sedang Menggenggam Asa

Dalam pelukan asa yang melemah, dan visioneritas yang sudah terlalu payah. Aku tak akan punyai apapun lagi selain harap yang tinggal sedikit sisanya.

Aku hanya manusia yang tak punya satupun cara untuk memainkan ulang masa lalu. But the future still not belong to me yet. Ketika masa depan sudah direka sedemikian rupa, aku tetap tak boleh jadi makhluk egois yang mencari keamanan dan kenyamanannya sendiri. Aku bukan terlahir dan tumbuh dengan gratis. Bahkan setiap daging yang melekat di tulang, semuanya serba berbayar untuk bisa bertumbuh.

Dan setiap manusia pasti akrab dengan sang abstrak bernama utang budi. Utang yang mengekang, hingga tak kutemui nominal manapun sanggup membayar. Tapi aku tetap manusia yang sejak lahir dijejali pekerti.

Aku akan tetap berlari menjauhi kenyamanan dengan asa yang tinggal segenggam lagi. Walau sedikit, setidaknya aku bisa bilang pada setiap orang yang keheranan, "aku sedang menggenggam asa".

Jun 17, 2013

Pengorbanan?

Mungkin ini rasanya jadi harimau kebun binatang yang "terpaksa" hidup di balik jeruji. Hanya sayangnya, kita terlalu berleha, menyombong karena merasa lebih mulia, dan egois untuk sekadar "bisa merasakan".

Lihatlah ketika anak-anak kecil itu menarik-narik ujung baju ayahnya. Menyeret-nyeret ayah mereka mendekati kandang harimau malang. Untuk tanpa sadar, menonton sekaligus tertawa akan keterkekangannya.

Tapi ia hanyalah harimau. Ia tangguh, tapi kalah pada akal picik. Ia kuat, tapi luluh pada senyum budak polos yang terhibur diatas pedihnya.

Ia seharusnya bisa pergi, mengenyam kebebasan yang menjadi haknya sejak lahir. Ia seharusnya bisa beradu eksiprasi dan inspirasi dengan oksigen yang spesial diembus oleh pohon-pohon yang berdiri megah di alam liar. Seperti kawanan-kawanannya.

Tapi ia hanyalah seekor harimau malang yang masih luluh pada senyum manusia-manusia yang selalu menontonnya, terus menganggapnya binatang perkasa.

Karena ia hanyalah seekor harimau kebun binatang, yang rela hidup dalam kemalangan, demi senyuman yang tak ingin ia lepas dari sejauh pandangnya.