Oct 23, 2012

Bila Saja Kau Kembali

Kamu...
Masihkan kamu yang berlayar di lautan?
Lautan yang nyaris koyak.
Penuh bangkai-bangkai kapal karam.

Bukan lagi,
Jangan lagi,
Jangan karam lagi, atau dasar telaga ini akan penuh.
Atau hingar ini akan makin luruh.
Makin sunyi, makin dijauhi.

Jangan sayang,
Apakah jangkar itu masih dipeluk lima jemarimu?
Masih terhuyung?
Kamu terlalu pantas untuk ragu.
Maka pergilah, bila perlu pergilah.
Tapi jika jangkarmu tak berakhir di pesisir ini, jangan kau karam.
Jangan pula kau hanya diam.

Pergilah!
Cari ia yang kau bilang bernama kepastian.

....
Aku akan tetap di sini.

Oct 13, 2012

Jauh

Aku berharap kakiku belum terlalu jauh melangkah-menjauhi masa lalu.

Benar saja, aku tak cukup lihai menjaga kenangan. Aku tak berbakat menggenggam janji. Dan justru membiarkannya berceceran sepanjang jalan cerita.

Mereka bilang, "hakikinya masa lalu adalah sosok yang paling jauh denganmu". Tak salah, tepatnya, aku tak bisa menyalahkan. Karena bahkan saat aku menoleh, titik ujung dari perspektif kenangan itu sudah tak lagi terjangkau oleh indera.

Kenangan itu memang tinggal kumpulan foto di album usang. Janji itu memang tinggal penunjuk jejak yang luput dihantam hujan. Kau tahu tinggal apa yang tersisa? Mungkin hanya kesepian berselaput penyesalan yang tak kenal perhentian.

Oct 3, 2012

"It's Just Too Good To Be True.."

Halo Oktober :)
Udah bulan baru lagi ya, gak kerasa udah sebulan lebih melepas status lajang siswa. HIDUP MAHASISWA!! Hahaha (Jadi, urang kudu ngaduk kituh?) akakak. Udah..udah.. To the point yuk ah hayuk! *nggandeng tangan pembaca*.

FYI, postingan ini punya satu kelebihan. Mau tau? Mau tau? Mau tauuuu? Oke kalem. Jadi, di postingan ini aku nulis judul lebih dulu. Biasanya, aku nulis isinya dulu, baru judulnya. Hahaha soalnya kalau judul dulu, biasanya jadi gak nyambung antara isi dengan judul. Gitu...

Oke guys, ayo kita begin. Seperti yang udah aku singgung di atas, sekarang tuh udah hampir sebulan aku kuli-ah. So far, quite good. Belum banyak sih yang berkesan, tapi syukuri aja, biar bahagia :D

Hem sebenarnya bingung sih mau mulai cerita dari mana. Agak malu gimana gitu bro haha. Tapi penasaran yah? Oh engga yah? Penasaran aja dong, biar beres ni postingan. Waka waka.

Jadi, ceritanya, yaa manusiawi lah, jadi, aku tuh, aduh gimana yah so hard to tell, too shy ta say. Hmm, gini loh pokoknya biasalah remaja gitu. Itu loh yang virus merah muda itu hahahaha *geli ih ciyus*. Intinya aku tuh lagi terserang virus itu. Yhahaha. Tapi, masalahnya, ah I hardly know myself so well. I hardly know him so well.

Kalo lagi dengerin lagu yang rada romantis itu suka kebayang-bayang bahwa aku masuk ke mesin waktu dan tiba-tiba jadi tokoh yang ada dalam lagu tersebut, nyang kayanye indah bener dah kisahnye. Tapi pas mesin waktunya direbut lagi sama Doraemon, aku nyadar kalo semuanya too good to be true....

Udah.. udah.. jangan galau! Haha.

Sep 22, 2012

"Dongeng" Sebelum Tidur

Lagi-lagi aku sedang berenang, atau tepatnya, berusaha berenang di kolam yang aku pun tak tahu kenapa aku ada disana. Sebuah pecahan memori tiba-tiba saja tersingkap, terbukti tak ada de javu. Yang ada hanya aku, aku, sang pembuat kesalahan yang sama.

Ketika sendi kaki masih mampu menopang, setidaknya aku masih bisa bergerak maju. Walau pelan, setidaknya aku tak berjalan mundur.

Bukan sebuah hal mudah, untuk dikalungi medali emas. Bukan sebuah hal mudah untuk mencapai podium di sebrang. Bukan sebuah hal mudah untuk bertahan dalam rasisme, dalam pengkastaan. Mana yang pintar, mana yang good-looking, ah! Semua pembedaan yang mungkin sanggup membunuhku pelan-pelan.

Sudah cukup mendramatisasi apa yang tak pernah sekalipun disadari.

Pergilah tidur..
Mungkin saja mimpi malam ini bisa sedikit lebih ramah........

Sep 10, 2012

Terpaan Angin Lalu

Hari itu tak kusangka
Kau ada untuk bersama
Mengupas luka dan duka
Merajut kisah dan cinta

Tak sangka! Si ganas pelari cepat datang
Dia waktu yang tak kenal kasih sayang
membiarkan aku terseret melayang
hingga Sisa jejakmu menghilang

Cinta ku tidaklah semu
Rindu ku juga bukan menipu
Sanubariku kini bersatu padu
Menusuk dalam relung kalbu

Satu, dua, tiga, empat, dan lima
Bukan cinta lagi yang bersama
Tapi benci yang tak tau dari mana
Aku bingung mengapa bisa?

Sehingga saat dia kembali
Untuk alasan apa dia datang lagi?
Untuk apa dia tinggal kembali disini?
Kapan dia pergi? Atau akankah ia pergi kembali?

Karya: Rasyida Indriasari, beloved lil sist.

Sep 8, 2012

Berhentilah

Aku tak pernah punya rencana, atau buku-buku catatan to-do-list dalam genggaman. Aku juga tak pernah menginginkan untuk diserupai dengan keledai dungu dalam pepatah, jatuh ke lubang yang sama sampai dua kali. Aku bukan mahkota-mahkota dandelion yang selalu membuntuti angin kemanapun ia berhembus. Jangan kau pikir aku pasrah, aku payah. Kau perlu tahu, sudah ku coba mengelak. Tapi kedua sisi manusiawiku tak hentinya saling bersikukuh. Lalu aku bisa apa?

Aku bukan perwira yang bisa mengambil alih komando kedua sisi manusiawiku sebagai prajurit. Aku punya kendali. Sayangnya, kini baru aku tahu, kendaliku punya batasan. Seringkali bongkah demi bongkah bagian yang dititipi dalam batinku membangkang. Dan disinilah, kendaliku sudah tiba di batasannya.

Sekali lagi berhentilah menyalahkan. Karena bahkan kamu tak sanggup untuk sekadar... mengerti.

Aug 14, 2012

Aku Hanya Ingin Kau Hidup Lebih Lama

Meja belajar hibah milad delapan tahun yang lalu masih berdiri tegap menopang sahabatku yang terbujur kaku. Sahabat yang jenius, tak pernah tahu apapun tapi selalu tahu. Sahabat yang diam, tak pernah berbuat apapun tapi selalu berbuat. Sahabat yang ramah, tak pernah menyakiti siapapun tapi seringkali menyakiti. Sahabat yang tuli, tak bisa mendengar apapun tapi selalu mendengar.

Seperti aku yang hanya mencari tanpa tahu apa yang sejatinya ku cari. Tampak begitu dungu dan idiot. Sebut saja aku begitu!

Sahabatku terlahir tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa mata, tanpa pita suara.. Cacat. Tapi ia tak cacat.

Dia hanya diam dan mati. Namun lebih sering ia terjaga dan beraksi. Tanpa tangan, ia menggenggamku. Tanpa kaki, ia membawaku berlari. Tanpa mata, ia memperlihatkan padaku tentang kekosongan mana saja yang mestinya ku isi. Tanpa pita suara, ia mendongengiku selimpah kisah dramatik yang live happily ever after.

Sahabatku tak lihai dalam mengeluh, walau saban hari menyaksikan aku mengeluh, aku yang dijamin cum laude jika aku menempuh studi siapa yang paling juara dalam mengeluh.

Sahabatku tak pernah kenal soal perasaan, walau (tanpa) mulutnya ia selalu memberiku wejangan tentang apa itu rasa dan bagaimana aku semestinya 'merasakan'.

Sahabatku tak pernah iba melihat aku tergolek lemah diantara derum resah ataupun dilema. Tapi ia selalu sedia mendengar.

Terkadang ia bisa sesak juga. Ia bisa mati juga. Ia bisa membangkang juga.

Tapi dalam hati, kuharap kau selalu bisa hidup lebih lama......




Best regards,

Me who always type on you.

Aug 11, 2012

Tahun Ke-18 dari Kelana di Muka Dunia

"Hari ini hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu bahagialah kamu..."

Kamis, 11 Agustus 1994.

Telah lahir seorang anak pertama perempuan dari pasangan orang tua yang saling menyayangi. Di sebuah rumah sakit khusus bersalin di daerah Jakarta Selatan. Proses kelahiran yang amat-sangat ditunggu. Dan syukurlah, bayi tak berdosa itu lahir dengan sehat dan selamat.

Bayi mungil itu kemudian diberi nama NAURA AGUSTINA. Naura berasal dari kata Naurah yang merupakan nama bunga. Dan Agustina, yap, sebagai sebuah klu bahwa anak tersebut lahir di bulan Agustus. Nama yang indah, nama yang sarat harapan.

Berbagai ucapan tanda ikut bahagia mengalir ke telinga orang tua si bayi. Beruntai doa tak luput dalam iringannya.

Tumbuh dan jadilah berguna untuk kebaikan ya, Nak.


Sabtu, 11 Agustus 2012

Desa Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat.

Di sebuah rumah kost yang sempit, seorang mahasiswa terbangun untuk makan sahur. Satu kecup dan ucap menyambut terjaganya, dari sang ibu yang amat ia sayangi--yang rela ikut bersempit-sempit tidur di kamar kost, demi menemaninya test Kemampuan Bahasa Inggris hari ini.

Ya, bayi itu, bayi itu kini telah punya jas almamater dengan logo salah satu Politeknik Negeri di daerah Bandung. Kau tahu? Ia sedang bermetamorfosis menjadi impian orang tuanya, menjadi harapan bangsanya, dan menjadi hamba pencari ridho TuhanNya.. semoga kelak kepompong itu 'kan berhasil. Semoga.....

Jul 18, 2012

Surat dari Perindu

Teruntuk: Seseorang yang hidup di pikometer permukaan bumi dalam galaksi bimasakti.

Dear, you.

Kamu kenal dengan si pelari cepat yang abstrak bernama waktu?
Ya, dia, yang perlahan mencipta jarak antara ujung jemari kakiku dan ujung jemari kakimu.

Tahukah kamu? Waktu kian ganas berjalan, membiarkan aku terseret-seret sambil meremas ujung bajunya
Ia tak peduli dengan tetesan darah dari pori keringatku, kelelahan "mengemis", memintanya selangkah berjalan mundur, atau sekadar sedetik berhenti.
.
Lima liter darah dari tubuh manusiaku, perlahan habis mengalir. Terbuang konyol.
Menyaksikannya yang masih terus berjalan.

Dia yang tak pernah sudi berbalik, menonton tanganku yang sebentar lagi akan sobek, terkoyak, lalu putus.
Menahan lajunya, dari ujung bajunya.

Dan tahukah kamu? Dia-masih-tetap-terus-berjalan. Tak semilidetik pun menggubris ke-nyaris tamat-an ku.

Hingga dia membawaku ke garis perhentianku dalam galaksi otakmu.
Mengubahku menjadi patung dalam diorama, yang terduduk di tanah tandus dalam salah satu sudut memorimu... kaku.

Semua terhenti, tanpa sempat terucap.
Tanpa kamu sempat mendengar.

Jul 14, 2012

The Biggest Choice of My Life, So Far

Hari ini tanggal 14 Juli 2012, berarti sekitar seminggu yang lalu, atau tepatnya 6 Juli 2012, palu itu diketuk. Palu yang (mungkin) dipegang oleh Ketua Panitia SNMPTN 2012. Ya, pukul 19:00 tepat, hasil SNMPTN Jalur Tertulis sudah dapat diakses. Jantungku berdegup, tidak karuan. Rasa penasaran, takut, trauma, optimis, pesimis, semuanya seakan berubah jadi planet-planet yang mengitari hatiku, tanpa orbit, bertubrukan, campur aduk.

Setelah ku tunda sekitar 1 jam, akhirnya aku beranikan diri mengetik http://ujian.snmptn.ac.id/ pada URL bar. Aku masukkan Nomor Peserta, tanggal lahir, dan rangkaian captcha. Kemudian aku klik "Cari". Tanpa pikir panjang, aku langsung me-minimize halaman web yang sedang loading mencari keberadaan namaku. Mengumpulkan keberanian, sekaligus memohon kelapangan dada jika hasilnya nihil. Klik!! aku maximize lagi halaman web tersebut. Dan hasilnya.................


.................aaah. Alhamdulillah! Aku masuk pilihan pertama!!

Tapi, sejurus kemudian, kebahagiaanku perlahan lenyap. Yaa, hilang. Berganti kebingungan maksimal. Pasalnya, seminggu sebelum itu, aku mendapat kabar bahwa aku diterima di Politeknik Negeri Bandung. Jurusan Teknik Kimia Produksi Bersih. Dan aku sudah daftar ulang....

IPB adalah kampus impianku sejak dulu, bahkan sebelum aku memilih UI di SNMPTN Undangan. Hanya saja, saat itu entah kenapa aku berpaling dari IPB. Rasanya sangat menyesal, apalagi saat mendengar bahwa teman-temanku yang daftar SNMPTN Undangan di IPB banyak yang lolos. Tapi, Tuhan Maha Baik, Dia langsung menghilangkan penyesalan dalam diriku dan menggantinya dengan semangat mengikuti SNMPTN Tulis. Tanpa ragu, aku pilih IPB.

Rasanya terlalu naif jika aku hanya berpegang pada SNMPTN Tulis, dan, daftarlah aku ke Politeknik Negeri Bandung, yang kabarnya lulusannya banyak diterima kerja di perusahaan ternama. Nilai plus plus bagiku yang memang mencari universitas yang bisa membuatku langsung kerja, karena mau tak mau, aku adalah anak pertama, aku akan jadi tulang punggung keluarga. Dan sujud syukur, pada tanggal 28 Juli 2012, aku dinyatakan diterima di Polban. Karena tenggat waktu untuk daftar ulang yang diberikan sangat sebentar, aku dan keluarga memutuskan untuk segera mendaftar ulang.

Aku sudah bersemangat sekali untuk berkuliah disana......

Namun, pada 6 Juli 2012, ada kabar gembira lain yang datang, nikmat luar biasa dari Allah SWT bahwa aku diterima di Kampus Impianku, kampus dambaanku sejak lama.

Aku dilema, bingung, galau. Keduanya sama baik di mataku. Sulit rasanya untuk memilih, juga berat rasanya untuk meninggalkan salah satu dari keduanya.

Hingga akhirnya aku sampai di hari kemarin, 13 Juli 2012, deadline pengunggahan data ke IPB. Aku memutuskan untuk tidak melakukan pengunggahan apapun. Dengan kata lain, Bismillahirrahmanirrahim, aku memilih Polban. Meninggalkan Kampus Impian menuju Kampus Impian lainnya.

Sekarang, aku sedang berusaha memantapkan hati.
Ya Allah, tolong aku.

This is the biggest choice of my life, so far.

Jun 20, 2012

Sudah Tiba Waktunya?

Tenda biru dan putih berhias soundsystem yang berdiri gagah sambil berteriak-teriak di samping panggung. Tampak adik-adik OSIS yang bertebaran membawa kamera menawarkan foto 10.000 rupiah perlembar. Teman-teman sebaya perempuan pakai kebaya terbaiknya. Dan yang lelaki menyetarakan dengan jas yang membuat nampak serasi.

Kutengok diriku. Tertutup sebuah kebaya hijau.

Dua hari kemudian, buku almamater dan ijazah telah tiba di genggamanku. Kubuka buku tahunanku berkali-kali.

Dengan mata, telinga, tangan, dan kaki yang masih tak percaya. Langkah SMA-ku selesailah sudah.

Jun 5, 2012

Apakah Kamu Menyadari

Masih perlukah kamu menyapa saat kita bertemu atau sedikitnya saling tersenyum?

Menulis sambil mendengar berita gosip dari ruang tengah memang sulit. Tepatnya bukan mendengar, hanya terdengar. Tapi tetap mengganggu. Gosip-gosip yang selalu terdengar seperti mencari sesuatu, yang aku tak mau tahu itu apa.

Kembali padamu. Kamu yang jiwanya selalu tampak dipenuhi hingar bingar afeksi dengan berbagai kadar ketulusan. Dibumbui manis-pahit kata-katamu di dunia di belakang komputer. Sebuah pesona tersendiri. Yang terus be-revolusi mengelilingi pusat tata surya-nya, hatimu.

Dua puluh enam alfabet yang ada sejak zaman sejarah, bagiku tak pernah cukup untuk membuat satu paragraf deskriptif tentangmu. Entah karena kamu terlalu rumit, atau kamu terlalu semu.

.......
5612
Di tengah gelombang suara acara gosip siang bolong.

May 27, 2012

Gelar Mahasiswa (yang Tertunda)

 When you try your best, but you don't succeed.
Terngiang baris pertama lagu Coldplay - Fix You. Mungkin lagu itu yang paling tepat mendeskripsikan siapa aku sekarang. Tiga tahun sekolah di SMA, berusaha sebisa mungkin agar taraf nilai per-semesternya selalu naik. Sedikitnya, satu tujuan yang aku cari, masuk jatah SNMPTN Undangan dan diterima.

Harapan berapi-api aku simpan di dalam selembar kertas hasil print-out finalisasi pendaftaran SNMPTN Undangan. Sengaja aku print tiga kali. Untuk aku, ibu, dan satu lagi disimpan. Jujur, harapan besar untuk bisa tahu rasanya "kuliah" itu aku simpan lewat Undangan. Penantian panjang pun aku lewati untuk menerima putusan. Ah, tidak hanya aku, tapi kami, ibuku, nenekku, adikku, atau mungkin ayahku di surga, kami semua menunggu.

Kemarin, tepat tanggal 26 Mei 2012, pukul 17:00, penantian itu akhirnya pecah, menetaskan jawaban. Dan hasilnya,


"Tidak Lulus Seleksi". Aku akui, aku tak percaya usaha yang nyaris bisa disebut mati-matian membuat taraf nilai rapot naik, seketika lenyap, hanya karena tiga buah kata. Napas tertahan. Hati menjerit. Air mata masih bisa bertahan di kelopak. Ku pukul meja komputerku dengan keras. Sakit. Ini bukan mimpi.

Gontai aku berjalan keluar kamar, "Bu, Oya gak dapet." Semua menangis. Aku telah membuat mereka semua menangis. Ku peluk ibuku beberapa menit, kelopak mataku kini tak sanggup lagi menahan tetesan rasa kecewa dari kelenjar larkrimalis. Semua tumpah. Menangis dan menangis.

Waktu berlangsung nyaris lima menit selama aku buang air mata. Tapi tiba-tiba, aku ingat, apa tujuanku kuliah, apa tujuanku belajar, apa tujuanku hidup. Bukankah aku pernah berjanji semuanya hanya untuk mendapat ridho dari Penciptaku? Ini sudah jalanNya. Mungkin jalur Undangan tak termasuk yang ia ridhoi untukku. Air mata yang bercucuran, seketika surut, layaknya air yang mengalir ke bak mandi yang berhenti saat keran air ditutup.

Hidup tak berhenti saat SNMPTN Undangan gagal. Kucoba memperkuat hati, mencoba berlapang dada. Merelakan status mahasiswa masih di gantung di almari masa depan.

Rasa iri yang harusnya bisa ditahan, sempat membuncah. Melihat kawan-kawanku sudah mengenakan status mahasiswa-nya. Ingin rasanya menangis lagi. Tapi apalah guna? Toh hasil di website itu tak akan bisa diubah.

Mungkin, Allah ingin aku mendapatkan jatah bangku di tempat kuliah kelak, dengan perjuangan yang hebat. Mungkin, jika aku sekadar duduk, berkat hasil dari raport, aku akan jadi orang penyia-nyia. Mungkin... Segalanya bisa jadi hipotesis.

Tadi pagi, dari jejaring sosial, aku melihat twit seorang teman mengatakan..
If everything has been written down, so why worry.

Ya benar, Allah pasti sudah punya jalan untukku. Walaupun nama sekolah di jejasos ku masih nama SMA,
 dan belum berganti jadi nama sebuah universitas. Aku yakin Allah pasti sudah siapkan tempat kuliah untukku juga. Gagal Undangan bukan berarti gagal masa depan. Menyerah adalah pantang. I will never quit the fight!!

Tanggal 7 Juli nanti, akan segera ku ambil gelar mahasiswa-ku, yang kemarin sempat tertunda.

May 22, 2012

Waktu, Sudikah?

Kerutan ini bukan pertanda semakin banyak aku kumpulkan butiran-butiran usia. Aku hanya sesosok manusia yang kesulitan untuk mengerti, atau mengartikan, satu hal, yang hampir setiap hitungan sembilan hingga enam puluh detik melayang dan melayang. Bukan burung, bukan kertas wajik, bukan kawanan sampah tisu bekas air mata. Aku hanya tidak mengerti, dari mana dia berasal, untuk alasan apa dia datang, untuk apa dia tinggal, kapan dia pergi, atau akankah ia pergi.

Sambil duduk, aku mempersilakan satuan per satuan angin yang hendak berlalu.

Jika saja aku diperkenankan untuk berubah dalam beberapa menit, aku hanya ingin menjadi angin, yang bisa terbang kemana ia mau. Mungkin ia sanggup terbang menyelusup ke dalam hati, menerka dalamnya, mengerti maksudnya, dan melihat isinya. Sehingga saat aku kembali, semua pertanyaan terjawab, setidaknya ada alasan untuk sedikit bernapas lega.

Karena aku tak mungkin bisa menawar waktu yang terus-menerus melangkah tanpa gentar. Tak peduli kita siap atau tak siap, yang ia tahu hanya terus berjalan. Aku tak mungkin melawan lajunya. Untuk mengoreksi setiap penggalan perjalanannya di masa lalu yang aku sia-kan.

Dan yang paling mungkin untuk sekarang, aku hanya meminta waktu agar segera membawaku pergi ke adegan hidup selanjutnya. Atau aku akan lebih lama dipeluk penyesalan.


Aku pun berdiri, seiring matahari beranjak pergi..