Jun 1, 2013

Tentang Jodoh

Tadi abis ngeliat foto kartu peserta SBMPTNnya si Sarah. Refleks langsung SMS ibu.
Saya: Bu, Oya mau nyoba snmptn ke ilmu komunikasi boleh ga?
Sebenernya udah yakin banget ibu gak akan ngebolehin dengan kata-kata yang seakan-akan ngebolehin. Misalnya: "terserah". Satu kata yang bikin menohok luar biasa haha.
Tapi, tadi jawabannya lain.
Ibu: Boleh, emang lagi libur mbak pas ujiannya?
Masya Allah! Kali ini ibu bener-bener ngebolehin. Padahal udah belasan kali aku ngomong mau ikut snmptn dan selalu gak boleh (dengan cara yang seakan-akan boleh). Tapi tadi itu lain.

Seneng, seneng banget dibolehin.

Tapi, satu sms ibu lainnya bikin aku mikir.
Ibu: Emang mbak gak betah di Polban?
Astaghfirullah. Aku mikir lama, aku merasakan masa-masa di polban setaun terakhir. Aku ga bisa menyangkal kalau aku betah. Sangat betah. Lalu apa sebenarnya motivasi aku untuk ikut sbmptn? Mencari kesombongan diri? Atau sekadar memenuhi ego?

Astaghfirullah. Aku lupa aku pernah bertekad bahwa aku akan membantu ibu membiayai kuliah adik. Tapi kenapa aku ingin ikut snmptn lagi? Sekarang adikku sudah kelas 2 SMA, tahun ini naik kelas 3. Dan berarti tahun depan dia kuliah. Kalau aku ikut sbmptn, dan diterima, apa yang akan terjadi? Aku hanya akan berbeda satu tingkat dengan adik. Soal wisuda berdekatan, itu ga masalah. Tapi gimana dengan uang kuliah? Gimana dengan ibu? Apa yang akan terjadi pada ibu yang notabene merupakan single parent karena ayahku telah Allah panggil lebih dulu lima tahun yang lalu? Apa yang akan terjadi? Aku hanya akan membebani ibu. Membuatnya susah.

Ya Allah, aku ini anak macam apa?

Setelah brainstorming sendiri, aku sekarang ngerti kenapa Allah masukkin aku ke polban. Sepertinya diini memang jodoh aku. Karena dengan cara bertahan disinilah yang paling mungkin bisa membuat aku mewujudkan tekadku untuk membantu ibu biayai kuliah adik.

Haha. Lupakan semua impian. Bukan karena menyerah. Tapi karena ada impian baru yang lebih mulia. Iya, lupakan ilmu komunikasi. Bertahan di teknik kimia. Wujudkan tekadmu. Bahagiakan ibumu.

Ibu: Iya betul.

May 23, 2013

Aku Harus Berguru pada Ikan

Kadang aku ingin berguru pada ikan. Bagaimana mereka bisa punya daya ingat yang secepat itu? Hanya tiga detik? Rasanya seperti pecah berkeping-keping saat harus mengingat banyak hal yang terlalu pedih untuk diingat. Tapi apalah daya, ingatanku bekerja berkali-kali lipat durasinya daripada ikan. Sisi manisnya, aku masih bisa mengingat semua hal, tentangmu, yang bisa membuatku masih tersenyum.

Aku percaya bertemu kamu adalah takdirku, mungkin takdirmu juga. Aku percaya setiap momen obrolan kita adalah takdirku, mungkin takdirmu juga. Takdir yang selalu kupedulikan, tapi mungkin tak sekalipun pernah kamu sekadar sadari.

Knowing there's someone else have been staying inside your heart is the worst fact lately.

Kesabaranku memang tak berbatas. Dan kesanggupanku masih bisa mengatasi semua ini.

Tapi, ingatanku tentang kamu yang selalu manis, sebelum ini, sudah cukup untuk menguapkan semua senyum. 

Aku harus berguru pada ikan.

May 10, 2013

Kau Tak Akan Kehilangannya

Kini aku malu pada mega yang memerah. Yang selalu ku tatap saat memintamu menetap. Yang selalu ku tatap saat kau memilih untuk pulang lebih dulu. Seharusnya aku telah tersadar sejak itu, bahwa bukan aku yang terpenting.

Kini aku malu pada kicau burung saat hari dimulai. Yang selalu kupinta izinnya untuk melukis wajahmu pada senjanya. Seharusnya mereka tak pernah izinkan aku. Agar setiap senjanya yang lampau tak menjadi lukisan yang hanya bisa dikenang.

Aku pun malu pada senja. Yang mulai sore itu tak lagi kulukiskan wajahnya. Kudengar lirih ia bertanya, "Mengapa kau berhenti? Aku menyukainya seperti kamu.".

Tenanglah senja,  hanya aku yang akan kehilangannya. Tidak denganmu. Karena sungguh akan ada pelukis lain yang melukis wajahnya pada dirimu. Pelukis beruntung. Pelukis yang lebih indah melukiskannya.

Bukan aku.

Apr 27, 2013

Gravitasi

Rembulan semakin memerah kala kau sudah terlalu ingin pulang.
Mengapa harus selekas ini? Tak bisakah kita pulang bersama? Nanti saja..
Bintang melulu berkedip, sambil sesekali mengingatkan aku, ini sudah larut.
Tapi bumi terus menambah percepatan garvitasinya, membuatku sukar berlalu dari medan magnetis terhangat bernama hatimu.
Jatuhkan saja, agar kekuatannya berkurang, aku ingin pulang, sebelum hatiku lebam.

Apr 7, 2013

Jalan Protokol itu, Kamu

Selamat senja yang berbeda, masih dengan kamu yang sama dengan kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. Kamu yang semoga tak lekas berganti karena lepas harapan. Kamu yang selalu bertakhta dalam damba. Yang teduh antara terik, bagai sebahagian padang pasir, kau itu yang ternaungi awan.
Aku masih melukiskan kamu di kanvas senja ini. Mungkin senja saja sudah bosan dengan wajahmu yang mengisi setiap halamannya. Dan kau tau? Aku harus selalu berkompromi dengan kicau burung gereja yang ramai di lapangan samping jendela kamarku, dengan sinar matahari yang berkerumun masuk ke pori-pori. Untuk satu, senja mereka yang bersedia kulukis lagi dengan wajah yang sama.
Waktu sudah bergulir lama sejak pertama aku tahu dirimu. Kisah ini tak seperti jalan tol jaman dulu yang bebas hambatan. Sebaliknya. Kisah ini serumit jalan protokol di kota-kota besar. Terhambat, sulit, dan mengesalkan. Tujuanku yang membuat aku sanggup bertahan, mungkin saja itu kamu. Berdoalah agar itu kamu. Hehe :)
Maaf jika aku sempat membelok, aku pikir ke arahmu sudah buntu.
Kamu tak perlu kuatir, sekarang aku sudah memutar balik. Aku kembali ke jalan protokol-mu.
Aku tahu kau juga ada dijalan ini, di ujung yang berbeda dariku. Aku yakin kau sedang berjalan ke arahku. Mengikuti jalan protokol-ku. Kau juga terhambat, kau juga sulit, dan kau juga pasti kesal. Tapi aku, tujuanmu, masih disini. Aku juga mencarimu. Maka, carilah aku! Jangan menyerah sampai satu tempo di satu titik dimana kamu dan aku bertemu.
Aku mencari.
Aku menunggumu.

Mar 27, 2013

Dulu


Dulu ia hanya punggung yang menghilang seiring transformasinya menjadi siluet dihadapan sengat cahaya dari balik jendela.
Dulu ia hanya tokoh nyata yang tanpa izinnya ku reka jadi pangeran dalam imajiku yang egois.
Dulu ia terduga sebagai pemilik tulang rusuk yang Tuhan titipkan menemaniku berjalan jauh dimuka dunia.
Dulu ia hanya kerabat yang diam-diam ku puji dalam hingar, agar tak ada satu makhluk, yang berkuping ultrasonik sekalipun, mampu mendengar.
Dulu... dulu.. dulu.
Semuanya hanya ceritera yang tak diabadikan di dongeng manapun.
Hanya konsep masa lalu, yang ada, tapi tak pernah kuasa kembali aku pinta.

Mar 17, 2013

Sebuah Rindu

Aku rindu masa-masa ketika hari Senin hingga Sabtu aku pergi dari rumah, pergi ke depan perumahan dengan jalan kaki, memakai kerudung bergo putih, kemeja putih yang mulai kekuningan, dan rok rampel abu-abu kebiruan. Membawa tas yang superberat dipunggung, dengan hanya ditopang sepatu hitam yang sudah mulai keabu-abuan. Rutinitas berangkat sekolah yang dulu selalu tak ku nanti, tapi sekarang begitu kurindukan.
Aku rindu masa-masa ketika aku tiba di depan sebuah SMA yang luasnya tak sampai 1 hektar. Melihat Pak Udin sedang sibuk menyebrangkan murid-murid yang hendak mencari ilmu, atau Pak Chandra yang sedang tersenyum ke arah kami, mungkin sambil berkata dalam hati "haha, kalian datangnya masih saja kalah pagi sama Bapak!" :')
Aku rindu masa-masa aku membuka daun pintu yang terbuat dari kayu, dengan ceria berjalan masuk ke sebuah ruangan dengan 19 buah meja plus satu meja guru dan 38 buah kursi plus satu kursi guru.
Ah, duabelas ipa empat!
Aku tahu masa-masa itu adalah hal yang mustahil untuk kembali. Aku tahu.
Tapi bukankah rindu tak menuntut sebuah reka ulang?

Mar 5, 2013

Inspirational Community

Beloved Classmates


Maroon Army

Love them as always :')

Feb 11, 2013

Dongeng Kita

Selamat malam kamu yang sedang berdamai di atas kasurmu beberapa kilometer dari tempatku menulis ini. Semoga kamu masih ingat tentang kata demi kata yang hingga saat huruf ini diketik masih terus berotasi di ingatanku. Tolong sisakan sedikit waktumu untuk kembali ke kata awal dari kalimat sebelumnya. Terinderakah olehmu ada pengharapan yang sarat disana? Sekali lagi, semoga.

Tahukah kamu beberapa malam terakhir, ada ratusan detik yang ku sisakan untuk mencari tahu alasan kamu berlalu. Aku terus mencari hingga aku tak jua mengerti. Hingga saat ini. Hingga tanda baca titik setelah berakhirnya kalimat ini.

Bukan, semuanya belum selesai. Aku masih tidak mengerti dan aku belum menyerah.
Bukan untukmu, tapi ini untuk kedamaianku.
Agar aku bisa menjadi sedamai kamu diatas kasurmu saat ini.
Kamu yang damai, tanpa mengingatku, atau sekadar menoleh dan melihat pecahan-pecahan memori yang mengkristal. (mungkin) memori kita.

Aku sudah lelah mengada-ada tentang dongeng kita. Tentang dunia peri yang diakhiri pangeran dan putrinya yang berdansa. Kutahu tak ada dansa di akhir cerita kita. Karena aku bukan peri. Dan tak ada aku di dunia peri. Tapi aku tak ingin, pada akhirnya aku harus lirih berkata, bahwa ternyata, dongeng kita, tak pernah ada.

Jan 25, 2013

Evaluasi Semester Satoeee!

Selamat siang. Halo bloggers, aku mau curhat dikit nih huhu. Semester 1 berlangsung dan berakhir dengan kurang baik *nangis di kaki gunung everest*. Iya! Selama semester 1 aku sakit-sakitan! Kena maag kronis segala. Padahal terhitung sampe kelas 2 SMA itu belum pernah yang namanya makan obat maag. Palingan pas kelas 3 aja tuh makan obat maag, itupun gara-gara saat itu aku kena disentri parah. Entah kenapa dikasih obat maag juga #pfft. Nah, balik lagi ya! Di semester 1 aku ga masuk 24 jam pelajaran karena sakit. Walaupun 3 jam nya dijatohin ke izin sama pengurus absen. Gara-gara telat ngumpulin surat. Dan akhirnya berujung pada kompensasi ngebersihin lab instrumentasi pengukuran atau yang biasa disingkat IP. Haah apa barusan? IP? IP???? Haaah...

Gara-gara cerita tentang kompensasi barusan, saya malah jadi keingetan IP yang itu. Yang mana? Yang ituuuuu. Bukan. Bukan istana plaza. Ini indeks prestasi woy indeks prestasiiiiii! #pfft. Oke. Kita mulai aja ya. Mulai apa? Eh teuing atuh kamu haha. Iya jadi aku masuk PMDK. Bukan. Bukan penelusuran minat dan kemampuan. Ini persatuan mahasiswa du du duuua ko ko kkk komaa. Hard to be said. Hff. Sedih? Bohong kalo bilang enggak! Sedihlah. Malu sama orangtua. Tapi alhamdulillahnya sih orangtua saya bukan tipikal orang tua yang terlalu menuntut nilai bagus ke anak-anaknya. Hihi I love my parents :*

Sebenernya hal ini terjadi karena saya yang kurang serius di semester 1. Masih kepikiran pengen jadi jurnalis. Hiks hiks. Tapi semester 2 insya Allah deh saya akan berjuang!

Yaah postingan ini intinya saya pengen curhat aja sih. Sekalian minta doa juga biar semester depan saya membaik aaamiin. Doain yah! Makasih...

Jan 15, 2013

Sore

Selamat sore, Tuhan.
Sore ini indah ya. Aku senang Tuhan. Hujan yang Kau anugerahkan mengenai aku sedikit demi sedikit. Mematikan sulutan-sulutan api amarah dalam jiwa ku walau sedikit demi sedikit.
Aku suka sore hari, Tuhan.
Dimana matahari sudah mulai meredam cahayanya.
Aku terduduk di depan kaca jendela, membuka laptop, kemudian mengarungi dunia virtual.
Menyaksikan tiap kisah dari orang-orang nyata.
Indah, Tuhan.
Aku ingin.....

Jan 14, 2013

Kau

Tuhan, tolong beri aku tambahan kapasitas ikhlas.
Tuhan, tolong tambahkan ampunanmu atasku yang kerapkali kehabisan rasa qana'ah.
Tapi Tuhan, bolehkah aku berharap sedikit saja lagi.
Ya, berharap seperti waktu itu. Yang akhir ceritanya tak seperti apa yang kuingin itu.
Aku menanti, Tuhan.
Menanti yang aku tak tahu apa.
Aku sabar, Tuhan.
Sabar menanti yang aku tak tahu apa.
Aku kuat, Tuhan.
Masuk ke lembar akhir perih itu berulang-ulang.
Beri aku tambahan kapasitas ikhlas, Tuhan.
Atau turunkan kapasitas ekspektasiku.
Kumohon segera ya, Tuhan?
Aku tau, Kau tau apa yang aku mau.
Dan aku tau, Kau selalu tau apa yang aku butuhkan.

Jan 9, 2013

Pencuri Tempo

Salahkah jika aku menjadi pencuri?
Pencuri tempo.
Wahai dirimu, yang berdiri di depan pekatnya cahaya matahari.

Wahai dirimu, andai saja mengukur kepekaan itu semudah mengukur suhu di laboraturium fisika terapan.
Mungkin tak akan ada ketololan yang mencari-cari sepatumu di tengah kerumunan.
Mungkin tak akan ada ketololan yang bahkan mengingat setiap detil sepatumu.

Wahai dirimu, siluet yang terlukis di kanvas cahaya.
Mengapa sepatu itu lekas sekali menghilang, setiap jam UAS usai.
Dua tangga sempit, dua tangga luas, secepat satu langkah melahap dirimu.
Dan kehilangan dirimu, ternyata lebih menyakitkan daripada memecahkan termometer di laboraturium korosi.

Hahaha..

Dec 17, 2012

Analogi Sepi

Lembayung senja masih menggoda pinisi yang sepi tanpa kemudi.
Masih bergejolak iri melihat pesona cakrawala yang tanpa cacat membuat langit dan laut terpatri.
Sejauh ku memandang, burung-burung camar tetap tampak berkoloni.
Suara deru ombak masih memenuhi ruang, meraih tepian, saling berlari.
Tapi disini- kenapa gelombang bunyi denting jarum jam masih sanggup ditangkap daun telinga?
Masih bisa menjamah membran timpani?
Menggetarkan malleus, incus, dan sanggurdi?

Apakah fase terakhir dari rasa sepi sedang ku layari?
Dengar!
Bangku nahkoda berderak tanpa penunggang.
Kapalku..
Karam.