Bukankah kita memulainya dengan baik?
Kalaupun kemarin langit ikut runtuh bersama hatiku, menjadi puing-puing yang tak bisa ku bentuk lagi. Harusnya ada kau yang memegang pundakku erat. Ketika aku hendak tersungkur, harusnya ada kau yang memegang pundakku erat. Tidak seperti kemarin. Kau sibuk dengan hatimu yang (mungkin) runtuh juga. Mengapa kita tidak bersama-sama disini? Meski mesti meratap, bukankah akan lebih baik jika kita ratapi bersama-sama?
Pengakhiran ini memang seharusnya kita nyatakan. Bukan karena hati kita tak bisa lagi mengunit...